This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

AL-QUR'AN KITABKU

Al-Qur'an, Kitab Pedoman Hidup Bagi Mereka yang Mendambakan Ketenangan dan Kebahagiaan Dunia-Akhirat

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Video Tips Menghafal Al-Qur'an Syaikh Wahid Abdussalam Bali : Cukup 15 Menit Sehari

Video tutorial menghafal Qur'an ini sudah dilengkapi subtitle atau terjemahan bahasa Indonesia. Sehingga memudahkan kita memahami nasihat Syaikh Wahid Abdussalam untuk menjadi penghafal Qur'an (Hafidzul Qur'an).

Video Tips Menghafal Al-Qur'an Syaikh Wahid Abdussalam Bali : Cukup 15 Menit Sehari.   


Alasan Wanita Muslimah Belum Mengenakan Jilbab

Jilbab merupakan salahsatu penutup aurat bagi kaum wanita. Dengan berjilbab, keamanan dan kesucian diri terjaga. Keindahan dan keelokan diripun dapat disalurkan sebagaimana mestinya. Tidak diumbar kemana-mana yang mengakibatkan  merosotnya hingga jatuhnya harga diri wanita muslimah.

Alasan Wanita Muslimah Belum Berjilbab?
Namun dalam masyarakat, setiap wanita muslimah belum mengenakan jilbab dalam memenuhi kewajibannya. Apakah alasan wanita muslimah belum mengenakan jilbab juga? KH. Muhammad Arifin Ilham, da'i kondang Indonesia yang terkenal dengan suara khasnya dan dakwahnya dalam menyeru berdzikir kepada Allah yang agung itu menjelaskannya dalam akun FansPage Facebooknya (https://www.facebook.com/kh.muhammad.arifin.ilham).

Berikut 10 alasan wanita muslimah belum mengenakan jilbab :

1. Belum tahu tujuan, hikmah & hukum jilbab - wajib (QS 33:59)

2. Tahu tetapi belum siap

3. Sangat cinta dunia

4. Banyaknya ma'siyat sehingga merasa belum pantas berjilbab

5. Pengaruh keluarga, lingkungan, pendidikan, kebiasaan & budaya sekuler

6. Anggapan kalau Islam itu hanya ritual sholat, haji dll

7. Anggapan yg penting aku baik padahal agama adalah tunduk patuh pada SYARIATNYA

8. Pengalaman jelek pada wanita berjilbab yang buruk ahklaknya padahal Islam adalah agama sampul (jilbab) & isi (ahklak mulia)

9. Merasa tidak cantik dengan berjilbab, padahal kecantikan sebenarnya tatkala menjadi wanita sholehah

10. Belum tahu dosa besar dengan siksa pecut api neraka pada bagian aurat yg terbuka.

Setelah mengemukakan  alasan-alasan wanita muslimah belum mengenakan jilbab tersebut, KH. M. Arifin Ilham menutup setatusnya dengan kalimat:

SubhanAllah, mulailah mempelajarinya, jangan malu, gengsi, minder, menunda-nunda lagi, banggalah sebagai wanita mukminat & belajarlah kepada sahabat terdekat yg indah istiqomah dengan jilbabnya, hidup kita di dunia ini sekedar mampir, sahabatku. 
Kemudian beliau ijin pamit akan mengisi acara di mesjid Agung Ibnu Batutah Nusa Dua Bali :

Mohon maaf, pamit & doakan Arifin menuju mesjid Agung Ibnu Batutah Nusa Dua Bali.

Perpustakaan Nasional Salurkan Buku ke Pesantren

Kota Bontang

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menyalurkan buku-buku kepustakaan bagi sejumlah pondok pesantren di Bontang, Kalimantan Timur. Penyaluran agenda 2012 guna meningkatkan daya saing dan minat baca para santri.

"Tahun 2012 ini alokasi buku-buku kepustakaan dari Perpustakaan Nasional RI untuk Bontang akan dialokasikan ke pondok pesantren," kata Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Kota Bontang, Asdar Ibrahim, di Bontang, Sabtu (7/4).

Sebelumnya, dua tahun berturut-turut, 2010-2011, "block grant" buku kepustakaan yang bersumber dari Perpustakaan Nasional telah dialokasikan untuk 15 kelurahan di Kota Bontang, Kaltim. Menurut Asdar, proposal dan persetujuan Badan Perpustakaan Provinsi Kaltim telah dikirim ke Perpustakaan Nasional dan tinggal menunggu proses pengiriman ke Bontang.

Asdar berharap nantinya dengan suplai buku-buku kepustakaan bagi penghuni ponpes akan meningkatkan daya saing lokal nasional bagi santri-santri di pondok pesantren tersebut. "Dengan membaca mereka akan menguasi berbagai ilmu pengetahuan, terampil dan komunikatif secara kritis dalam keseharian anak-anak maupun pengasuhnya," kata Asdar.

Jumlah pondok pesantren di Bontang ada enam yakni Nurul Imam, Nurul Fajri, Mawadatullah, Hidayatullah/Rahmatullah, Aisyah, dan Darul Qurra. Sementara itu, batuan "block grant" buku bagi 15 kelurahan di Bontang selama dua tahun berturut-turut sebanyak 500 judul buku dan sebanyak 1.000 exsemplar.

"Buku-buku tersebut sudah didistribusi ke masing-masing kelurahan, tinggal teman-teman di kelurahan yang mengembangkan," kata Asdar.

source: Antara dan nu.or.id

Pesantren Harus Memiliki Spesifikasi Keilmuan - Wawancara pondokpesantren.net dengan Gus Solah

Wawancara dengan Gus Solah
Banyak pesantren belakangan ini berlomba-lomba mendirikan pendidikan umum di lingkungan pesantren. Pada tingkatan tertentu, pembelajaran keilmuan agama yang selama ini menjadi cirikhas pesantren bahkan cenderung dinomorduakan. Memang belum sampai pada tahap dihilangkan, tapi sudah banyak santri dan juga pesantren yang mengedepankan sekolah yang berorientasi pada’ijazah’. Bagaimana menyikapi persoalan tersebut? Muhtadin AR dan Subhan (MS) dari www.pondokpesantren.net mewawancarai KH. Solahuddin Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Solah (GS), Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang untuk memotret persoalan tersebut.


MS : Bagaimana perkembangan pesantren dan pendidikan saat ini?

GS: Saya melihat di pesantren ini ada semacam kegamangan atau ketidakjelasan, yakni keinginan untuk memadukan pendidikan umum dan pesantren. Saya lihat dua-duanya tidak tercapai. Pendidikan diniyahnya tertinggal, dan pendidikan umumnya juga tidak mencapai suatu tingkatan yang tinggi. Oleh karena itu, mulai tahun ini (2009) di Tebuireng saya mencoba kembali mendirikan kegiatan mu’alimin enam tahun tamatan MI atau SD yang khusus belajar ilmu agama. Di sini tidak ada sama sekali pendidikan umum dan tidak ada ujian. Kalau mau ijazah, mereka akan melakukan ujian sendiri, melalui ujian persamaan. Apakah itu Tsanawiyah atau Aliyah. Apakah itu SMP atau SMA. Nanti kalau tanpa ijazah bisa juga mereka masuk ma'had ’aly. Dari ma'had ’aly selevel S1 bisa melanjutkan S2 dan seterusnya di luar negeri mungkin.

Saya tak tahu pasti hal-hal seperti ini dapat mengembalikan pendidikan keagamaan di Tebuireng. Tentunya perlu waktu, perlu kerja keras, dan perlu dukungan-dukungan yang lainnya untuk dapat terwujud. Sedang untuk pendidikan yang lain, SMP dan SMA, saya mencoba meningkatkan kemampuan mereka. Dari segi pengajaran dan dari segi kognitif, yakni dengan mencoba melakukan pelatihan guru-guru melalui IKIP Surabaya (sekarang UNESA), yang dimulai tahun ini dengan guru-guru mata pelajaran UAN. Dan hasil yang dicapai adalah meningkatnya angka rata-rata dan meningkatnya lulusan Tebuireng yang masuk perguruan tinggi terkemuka.

MS: Sekarang ini ada UU no. 20 tentang Sisdiknas yang didalamnya beberapa pasalnya secara implisit berbicara tentang pesantren. Seberapa efektif aturan semacam ini?
GS: Belum nampak. Perpes-nya kan masih baru. Kami juga masih menunggu Peraturan Menteri tentang itu yang sampai sekarang belum ada. Tentunya itu satu peluang yang baik. Supaya pendidikan pesantren mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah. Selama ini pendidikan pesantren terlupakan. Nah, tadi yang saya lakukan baru kognitif, padahal konsep pendidikan tidak hanya hal itu saja. Juga afektif dan psikomotorik, yang afektif ini yang perlu dibenahi. Perlu membentuk karakter para tamatan pesantren. Orang yang positif tentunya, orang yang percaya diri orang yang akhlaknya baik., orang yang mampu berkomunikasi dengan baik, dan seterusnya. Dan hal inilah yang cukup sulit dibandingkan yang kognitif tadi misalnya. Jadi hal ini adalah tantangan kita bersama. Bagaimana mewujudkan santri-santri yang berakhlak baik, orang yang amanah, orang-orang yang betul-betul menjadi orang Islam dalam artian yang sebenarnya.

Kalau mau jujur, Islam tertinggal jauh sekali. Indonesia sudah 60 tahun lebih merdeka, kita juga telah punya tokoh-tokoh pengetahuan dari kalangan Islam, tetapi tidak mengalami pengetahuan seperti yang seharusnya. Banyak umat Islam yang tertinggal dalam pendidikan maupun dalam kesejahteraan. Syukur bahwa, katakanlah dulu banyak orang-orang abangan yang kini menjalankan kegiatan keagamaan dengan baik. Hanya saja saya masih melihat ada jarak antar Islam sebagai pengetahuan dengan perilaku. Bagaimana menjembataninya? Karena kalau tidak demikian, orang-orang Islam tidak akan maju.

MS: Ada tiga aspek yang dikenal dalam pendidikan pesantren dewasa ini. Aspek pendidikan agama, aspek pengembangan masyarakat, dan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti yang Gus Sholah sebut tadi, dalam kaitannya dengan tingkat pemahaman keagamaan masyarakat dan peran pesantren, apakah pesantren belum maksimal dalam berkomunikasi dengan masyarakat?

GS
: Saya tak begitu tahu. Tapi kalau di Tebuireng kami, khususnya saya pribadi, mencoba untuk terus menjalin kontak dengan masyarakat. Kalau misalnya saya diundang tetangga, jika saya ada di Tebuirenga, pasti saya akan datang. Demikian juga, saya mengundang mereka untuk halal bi halal di rumah dan ternyata hal itu mendapatkan sambutan. Tapi kan tidak cukup dengan itu.

Sebetulnya, pesantren juga diharapkan menjadi agen perubahan, agar masyarakat menjadi lebih maju. Tetapi hal itu kan harus dimulai dari pesantrennya sendiri. Kalau pesantrennya tidak maju bagaimana bisa memajukan masyarakat? Dan saya melihat pesantren Tebuireng itu maju sekali, tetapi belakangan kan tidak. Dan untuk kembali ke posisi yang dulu, itu bukan pekerjaan yang mudah. Membutuhkan kerja keras, membutuhkan ketekunan, dan macam-macam termasuk dana juga keberuntungan. Dan ini tantangan yang luar biasa. Saya pikir banyak pesantren seperti Tebuireng ini, yang dulunya hebat sekarang biasa-biasa saja.

Kalau untuk pendidikan yang ada standar nasionalnya, misalnya ujian UAN, kita punya cara untuk melihat posisi kita di mana. Tebuireng ini sebenarnya termasuk kelas menengah. Dalam segi pengajaran kami ingin meningkatkan menjadi kelas menengah atas, dan kelas atas dalam tempo enam tahun. Mudah-mudahan berhasil. Tapi untuk pendidikan agama, saya tidak tahu apa ada standarnya. Standar pendidikan pesantren. Mestinya harus ada untuk mengukur tingkat kemajuan suatu pesantren. Kalau tidak ada kita tidak akan punya ukuran standar yang sama untuk mengukur pendidikan pesantren. Dan saya pikir hal ini kalau dilakukan akan bagus sekali.

MS:  Sekarang ini ada beberapa pesantren yang berinisiatif mengembangkan Mahad ’Aly sebagai suatu konsep pendidikan pesantren. Pemahaman santri tentang konsep agama, dinamika fiqh, mungkin dapat tercover dengan adanya model Mahad ’Aly ini.

GS: Justru itu. Saya tak tahu seberapa banyak sistem pendidikan Mahad ’Aly ini. Nah ini perlu ada standar. Kalau STAIN, terlihat sudah terlalu banyak. Dan saya tidak tahu apakah di sana sudah ada standar atau tidak. Kita harus memilih standar, dan standar itu jangan terlalu rendah. Kalau demikian kita tidak punya suatu perbandingan dengan dunia internasional.

MS: Standar seperti apa?

GS: Artinya kita harus ada upaya khusus menyusun standar itu. Dan jangan ragu-ragu menetapkan standar yang tinggi, dan jangan juga menurunkan standar itu. Kalau standarnya tidak tercapai, kalau menurut saya ya jangan dinaikkan tingkat. Tanpa itu nampak berat bagi kita, dan tidak akan mencapai kemajuan. Jadi betul-betul kita harus menjaga mutu dari perguruan tinggi ini.

MS: Seberapa besar alumnus pesantren memberikan kontribusi untuk perkembangan pesantren?

GS
: Saya tidak tahu pasti, karena tidak ada data-data tentang itu. Paling tidak saya tidak pernah mendengar bahwa, katakanlah anggota DPR alumni Tebuireng atau pesantren yang lain bersuara memihak pesantren atau madrasah.

Saya mempunyai data bahwa guru yang ada di Indonesia itu ada 2,8 juta, swastanya itu hampir 1 juta sembilan ratusan. Dan saya yakin guru swasta itu 80 persennya adalah lulusan lembaga pendidikan Islam. Dan saya kira mereka dianaktirikan. Tidak ada upaya melatih mereka.

Perlu diketahui saja. Ada upaya dari Depdiknas, untuk mengetahui uji kompetensi guru, termasuk guru aliyah. Ada datanya tentang hal ini. Saya tidak tahu apakah hal ini diketahui para pengajar atau tidak. Ini datanya. Untuk MI dan SD dari 285 guru, yang memenuhi standar untuk menjadi guru IPA, itu sama sekali tidak ada. Kompetensi untuk pengajar IPA itu nol. Untuk Bahasa Indonesia hanya satu orang. Untuk Matematika 181 orang. Untuk IPS 85 orang. Bayangkan! Uji kompetensi guru di satu kabupaten. Saya kira untuk jenjang pendidikan berikutnya (Mts atau SMP, MA atau SMA) juga tidak jauh beda hasilnya. Artinya apa? Ini sudah termasuk guru negeri lo! Artinya memang mutu guru kita memang tidak layak. Dan itu tidak pernah disadari. Oleh Depdiknas maupun oleh Depag. Jadi kita harus berkiblat kepada luar negeri, standar guru harus kita buat. Kalau tidak mau jadi apa orang Indonesia itu. Kita harus berani mengoreksi diri kita dengan kejam.

Saya tidak tertarik untuk mempelajari dunia pendidikan sebelum di Tebuireng. Setelah saya di Tebuireng, saya melihat betapa parahnya. Kalau saya jadi pemerintah, untuk pesantren, carilah sepuluh atau limabelas pesantren yang punya sejarah baik, mau serius memperbaiki mutunya, itu kita beri darah, kita beri dukungan. Tidak hanya sekedar keluar dana begitu saja. Harus kita bantu untuk meningkatkan mutu, dengan bantuan dana. Kalau tidak begitu, tak mungkin kita dapat mengejar.

MS: Di satu sisi pesantren harus mengejar mutu atau kualitasnya. Di sisi yang lain pesantren dihadapkan pada kompetensi dengan sekolah-sekolah umum. Bagaimana pesantren mengahadapi masalah semacam ini?

GS
: Seperti yang saya katakan tadi. Kalau mau belajar agama, ya agama. Belajar umum, ya umum silahkan. Jangan campur aduk. Tidak mungkin orang mengerti agama, juga mengerti umum.

MS: Jadi perlu ada spesifikasi pesantren?

GS: Ya. Kalau mau di pengetahuan umum, apa fungsi agama? Mendidik akhlak mereka. Ya mereka diajari agama di pondokan. Malah kalau mungkin, lulus dari Tebuireng misal, dengan waktu enam tahun mereka bisa hafal Juz Amma, hafal surat-surat yang terkenal. Nah, mereka dapat memahami agama sebagai sumber kehidupan. Jadi perilaku mereka dikontrol oleh agama. Jadi fungsi agama dalam rangka pembentukan karakter dan pembentukan akhlak. Mau kita beri ilmu agama, ya tidak mungkinlah. Nanti llmu agamanya jadi setengah matang saja. Yang umum juga begitu. Kalau mau belajar ilmu agama, monggo silahkan belajar ilmu agama. Dalam waktu enam tahun, ditambah belajar di Mahad ’Aly, tahap dasar dapat dikuasai. Nanti mereka memperdalam lagi.

MS: Konkritnya di tingkat pesantren itu terlihat database para siswa ke mana orientasi mereka ke depan.

GS: Tapi apa mungkin orang masuk pesantren enam tahun mendapat semua yang diajarkan di pesantren. Pasti tak banyak yang mereka dapat. Enam tahun itu waktu yang pendek. Jadi enam tahun mereka belajar yang salaf, ditambahkan empat tahun di Mahad ’Aly, ini sudah cukup lumayan. Dan tentu masih perlu pendalaman yang lebih jauh lagi. Bisa ambil S2 atau S3 dan seterusnya. Kalau ambil Mts, SMP, MA, dan SMA, ya tidak ada yang dihasilkan. Paling memberi dasar-dasar keilmuan mereka yang cukup.

Pembentukan sikap yang mau belajar. Sikap yang tidak mudah menyerah. Sikap percaya diri. Menjadi orang yang mudah berkomunikasi. Bisa memimpin. Itu menurut saya yang harus kita lakukan.

MS: Ada kecenderungan kecemburuan sosial di kalangan pesantren (yang notabene telah mapan dengan metode sorogan) sehingga ada upaya untuk memaksakan diri memasukkan metode classical.

GS
: Hal itu ada plus dan minusnya. Sekarang yang enam tahun di Tebuireng juga classical. Tapi betul-betul mendalami ilmu agamanya. Jadi yang penting mereka itu mendalami satu ilmu. Sampai tahap yang cukup baik kemudian meninggalkan Tebuireng dan mengembangkan ilmu mereka. Jadi yang penting, pengertian tentang ilmu yaitu keinginan untuk belajar terus. Hal itu yang harus ditanamkan.

Pesantren sorogan juga bagus. Tidak ada yang salah dengan itu. Classical pun menurut saya juga bagus. Tergantung dari mana kita melihatnya. Dan sekali lagi saya tekankan, tidak mungkinlah satu orang belajar dua ilmu, kecuali sekolahnya dua puluh lima tahun. Tapi sudah tua kan kalau begitu kita kan.

MS: Sekarang ini ada semacam kekhawatiran bahwa mereka tidak akan diperhatikan Departeman Agama kalau tidak memiliki sekolah umum (MA misalnya).

GS: Justru di sini. Mestinya Departemen Agama membantu pesantren-pesantren seperti ini (non-classical). Mereka membuat sekolah yang tadi itu (campuran antara umum dan agama) untuk mendapatkan perhatian pemerintah atau Departemen Agama. Departemen Agama seharusnya juag harus aktif, memperjuangkan anggaran untuk pesantren. Menurut saya sampai saat ini memang pesantren dianaktirikan betul. Saya pun kalau tidak mengurusi Tebuireng tak akan ngerti soal ini. Dan saya akan bersuara terus untuk itu.

MS: Dengan jumlah yang sangat besar, seberapa besar pesantren memberikan kontribusinya pada bangsa ini?

GS
: Saya pikir dari segi jumlah pesantren sudah oke. Tapi yang penting kan mutu. Dan sekali lagi kita lihat apakah standar mutunya ada apa tidak. Kemudian sejauh mana kita dapat mendata klasifikasi pesantren. Kalau perguruan tinggi negeri kan ada. Bahkan di luar negeri, terserah negeri atau tidak, sudah ada klasifikasi tertentu. Nah pesantren ini bisa tidak memiliki klasifikasi seperti ini? Berdasarkan mutunya, tidak hanya jumlah. Dan menurut saya itu harus dilakukan Departemen Agama. Kenapa? Karena pesantren ini adalah modal yang kita punyai ratusan tahun lamanya. Dan ini menuju ke arah yang merosot kalau menurut saya. Dan kalau tidak di-dandani, di-openi, dan dibantu, saya khawatir kondisinya akan semakin benar-benar merosot. Kecuali sejumlah pesantren tertentu saja. Mungkin jumlahnya dari 14.000 itu tak mencapai seratus. Kan sayang kalau itu tidak ditangani dengan baik.

MS: Kemudian, konsep Gus Sholah mengenai gagasan tentang bagaimana pesantren mampu menjembatani kebutuhan masyarakat, mungkin di sisi ekonomi, atau sisi budaya?
GS: Nah, itu saya baru mulai mau mengarahkan ke sana. Dan tentunya hal itu mudah diomongkan, tetapi susah untuk dikerjakan. Saya baru mencoba membuat BMT tahun depan dengan dibantu sebuah lembaga perbankan. Jadi kami ingin mencari warga yang punya kegiatan mikro, nanti kami bisa menjadi chaneling bagi pihak-pihak pemilik modal untuk membantu mereka dengan pendampingan. Dan ini kami mulai mendidik para pendampingnya dulu. Ini bagian dari upaya untuk memberikan manfaat pada masyarakat, membuat Tebuireng menjadi bagian dari masyarakat. Tapi itu membutuhkan waktu, juga tenaga. Kami juga baru memulai kegiatan ekonomi dengan mengolah tanah yang selama ini konvensional, menggantinya dengan cara-cara yang lain.

MS: Dengan kondisi pesantren seperti ini, apakah ada kepentingan politis sehingga pesantren terkesan mendapat tekanan untuk berkembang?

GS
: Siapa yang mempunyai kepentingan politis? Kalau pemerintah itu kan kita-kita juga. Pemerintah adalah penyelenggara di negara ini. Ada DPR, ada eksekutif. Di DPR sudah banyak yang berasal dari kalangan santri, baik dari NU maupun dari Muhamadiyah. Di eksekutif, di Departemen Agama juga sudah banyak orang-orang dari kalangan pesantren. Jadi tidak ada kepentingan politis itu. Kita saja yang tidak mau memperjuangkan. Kalau kemarin kita memang tidak memiliki dasar. Tapi sekarang kita memiliki undang-undang Sisdiknas, yang memberi porsi dan posisi yang sama sederajat. Nah, porsinya saja yang sekarang ini belum sama. [ ]

source: http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index.php?option=com_content&task=view&id=201

Direktur PD Pontren Meninjau Reaktor Nuklir BATAN - Berita

 Direktur PD Pontren Meninjau Reaktor Nuklir BATAN
Serpong. Rabu lalu (15/2/2012) Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Drs. H. A. Saifuddin, MA (berbaju putih) beserta staf mengunjungi reaktor Serba Guna G.A Siwabessy.

Rombongan diterima langsung oleh Kepala PRSG, Alim Tarigan, Kepala PKTN, Ferly Hermana, Kepala PDIN, Totti Tjiptosumirat, dan Kepala BKHH, Ferhat Aziz, di lobby Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG). Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Kepala BATAN, Hudi Hastowo, ke Kementerian Agama beberapa waktu lalu yang saat itu diterima oleh Menteri Agama, Suryadharma Ali, dalam rangka menjalin kerja sama untuk menyebarluaskan hasil Litbang BATAN ke pondok pesantren di Indonesia.


Direktur PD Pontren yang didampingi Kasubdit Pendidikan Pesantren Drs. H. Imam Safei, M.Pd berkesempatan melihat dari dekat reaktor reaktor Serba Guna G.A Siwabessy (RSG-GAS) yang memproduksi beragam isotop yang dibutuhkan dalam bidang kesehatan dan pertanian. Salah satunya hasil teknologi RSG GAS ini langsung diterapkan di Yayasan Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Nurul Ihsan di Desa Keranggan, Kec. Setu, Kab. Tangerang yang merupakan salah satu binaan BATAN dalam penerapan aplikasi teknik nuklir di bidang pakan ternak sapi. Yayasan yang membina 96 siswa ini juga telah memanfaatkan biogas dari kotoran ternak sapi yang dapat mereka manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, dengan binaan BATAN, yayasan ini telah mampu membuat pakan ternak yang merangsang mikroba dalam perut sapi mengolah makanan lebih cepat. Hasilnya sapi menjadi lekas gemuk dalam waktu singkat.

Kunjungan tersebut semakin mengukuhkan tekad Kementerian Agama dalam pemberdayaan pondok pesantren dengan memanfaatkan aplikasi teknik nuklir di lingkungan pondok pesantren. Melalui kerjasama dengan BATAN, akselerasi kemajuan dunia usaha di lingkungan pesantren diyakini akan tercapai. Jika kerjasama ini kelak terwujud, potensi pesantren yang berjumlah sekitar 25 ribu di seluruh tanah air tentu akan memberikan sumbangan signfikan bagi pertumbuhan ekonomi. (zetha)

source : www.pondokpesantren.net

KH. Abdul Rozaq Shofawi : Penerus Tradisi Penghafalan Al-Quran

KH. Abdul Rozaq Shofawi
Ia anak saudagar batik, tapi gaya hidupnya sederhana dan dermawan. Tarekatnya pun sederhana: sangat peduli pada masalah halal-haram.

Solo, 1985. Sudah lebih dari seminggu isu penjualan daging ayam –yang disembelih tidak Islami - merebak di tengah masyarakat, dan meresahkan umat Islam. Apalagi ketika itu hampir semua ayam potong yang dijual di pasar hanya berasal dari satu atau dua agen. Kegelisahan yang sama juga mengusik seorang kiai pengasuh sebuah pesantren di Kota Bengawan itu. Tak tinggal diam, ia segera bertindak. Setiap pukul dua dinihari, mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan, ia melamar bekerja di agen pemotongan ayam. Dua jam kemudian ia kembali ke pesantren menjadi imam shalat Subuh.

Demikianlah, selama dua minggu sang kiai telah menyembelih ribuan ekor ayam untuk dikonsumsi masyarakat. Kesempatan itu juga ia manfaatkan untuk menularkan ilmu menyembelih sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Setelah yakin penyembelihan ayam yang dilakukan karyawan lain sudah benar, ia pun mengundurkan diri sebagai tukang potong ayam.

Meski tampak sederhana, apa yang dilakukan sang kiai sesungguhnya luar biasa. Dalam pandangannya sebagai ulama, halal-haramnya suatu makanan bukan hal sepele. Sebab, di samping merupakan masalah hukum, hal itu juga sangat berpengaruh pada upaya pembangunan mental seseorang. Hingga kini, kepeduliannya terhadap persoalan halal-haram tetap kuat, bahkan menjadi salah satu thariqah-nya.

Siapa si tukang potong ayam itu? Dialah K.H. Abdul Rozaq Shofawi, kini 60 tahun, pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Solo.

Karena kepedulian itu pula Kiai Rozaq pernah menghukum sejumlah santrinya gara-gara mereka mengambil telur di dapur asrama. Bukan kerugian atas sejumlah telur yang dipersoalkannya, tapi status keharaman telur sebagai hasil curian itulah yang membuatnya marah.

Ia putra pertama K.H. Ahmad Shofawi, seorang ulama yang juga saudagar batik terkenal di Solo, sementara ibundanya adalah Siti Musyarofah, putri K.H. Abdul Mannan, perintis Pondok Pesantren Al-Muayyad. Ibundanya wafat ketika melahirkan anak ketiga – yang kemudian meninggal sebulan setelah sang ibu wafat. Sejak itu saudara kandung Kiai Rozaq tinggal adik perempuannya, Siti Mariah, istri K.H. Ma’mun Muhammad Mura’i, yang kini tinggal di Yogyakarta.

Perihal wafatnya sang ibu tak lepas dari cerita unik ala pesantren. Pernikahan kedua orangtuanya adalah atas perintah K.H. Ma’shum, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Ketika itu usia Musyarofah baru belasan, sementara Shofawi – sahabat sang mertua semasa sama-sama nyantri – sudah sangat uzur. Kakak sulung Musyarofah, K.H. Ahmad Umar Abdul Manan, sangat gundah, karena ia berpikir adik perempuannya akan segera menjadi janda.

Maka Kiai Umar pun menemui gurunya, K.H. Manshur, mursyid Thariqah Naqsybandiyah di Popongan, Klaten, Jawa Tengah. Baru saja ia masuk, sang guru sudah lebih dulu berkata, “Berikan saja adikmu kepada Kiai Shofawi dengan ikhlas. Insya Allah adikmu tidak akan jadi janda.” Ramalan itu ternyata terbukti: justru Musyarofah yang wafat lebih dulu.

Tukang Cat

Meski putra saudagar, sejak kecil Abdul Rozaq memilih hidup prihatin. Ketika bersekolah di Yogyakarta, ia mencari bekal dengan bekerja serabutan. Di sela-sela waktu belajarnya, ia pernah menjadi tukang tambal ban di pinggiran jalan Kota Gudeg. Ia juga pernah bekerja di sebuah bengkel mobil sebagai tukang cat dan mekanik.

Tak mengherankan, pengetahuannya tentang dunia otomotif sangat dalam, bahkan di kalangan para kiai ia dikenal sebagai ahli mesin. Karena itu, di sela-sela mengasuh pesantren, suami Hj. Hindun Susilowati itu mempunyai hobi mengutak-atik mesin mobil. Itu sebabnya beberapa kiai sepuh ada yang minta tolong untuk memperbaiki mobil mereka. Selama di Yogya, Kiai Rozaq sempat belajar kepada K.H. Ali Ma’shum, pengasuh Ponpes Al-Munawwir (Krapyak), K.H. Dr. Tholhah Manshur, pakar hukum tata negara Universitas Gajah Mada, dan K.H. Masturi Barmawi, dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Ketika baru menikah, ayah lima anak itu menghidupi keluarganya dengan berdagang es keliling, yang belakangan berkembang menjadi home industry. Setelah mengasuh Al-Muayyad, Kiai Rozaq sekeluarga hijrah ke kompleks Pondok Pesantren Al-Muayyad. Dipercaya meneruskan mengasuh pesantren Al-Quran membuat Kiai Rozaq merasa perlu meneruskan tradisi penghafalan kitab suci itu kepada putra-putrinya. Maka sejak kecil, putra-putrinya, yaitu Hj. Ari Hikmawati, H. Faishol Arif, H. Kholid, Hj. Himmatul Aliyah, dan Hj. Nailil Muna, dibiasakan menghafal Al-Quran. Bahkan, sebagai motivator, Kiai Rozaq selalu menyediakan hadiah setiap kali mereka berhasil menambah hafalan satu juz. Jangan heran, di usia muda mereka telah menjadi hufazhul Quran, penghafal Al-Quran.

Sejak masih muda, Kiai Rozaq sering diajak pamannya, Kiai Umar, mendiskusikan masalah kepengurusan pesantren. Satu hal yang ia kenang: sang paman selalu mendorongnya untuk melakukan inovasi, sementara sang paman hanya mengawasi sambil sesekali mengingatkan jika langkah yang ditempuh kemenakannya kurang sesuai dengan pikirannya.

Kepemimpinan yang bijak itu sangat membekas di hati Kiai Rozaq, sehingga di belakang hari ia juga selalu memberi kebebasan kepada stafnya untuk melakukan inovasi, sepanjang tidak bertentangan dengan garis-garis besar kebijakan pesantren. Ia begitu sabar membiarkan pengurus pesantren, yang rata-rata masih muda, mengutak-atik sistem kepengurusan dan membuat forum untuk mengkritisi sistem yang sedang berjalan.

Guru lain yang juga sempat menanamkan kearifan dalam diri Kiai Rozaq ialah ulama kharismatik yang tinggal di Mangli, sebuah desa kecil di lereng Gunung Merbabu, Kiai Hasan Asykari, yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Mangli. Sekitar tahun 1977-1980, ia mengaji sekaligus berkhidmah kepada tokoh yang pengajian mingguannya selalu dihadiri ribuan orang itu.

Selama tiga tahun, setiap minggu, Kiai Rozaq mengendarai sepeda motor menempuh perjalanan Solo-Mangli. Cukup jauh, karena Mangli terletak di wilayah Ngablak, Magelang. Jadwal pertemuan mingguan itu bertambah jika tiba-tiba Mbah Mangli memanggilnya untuk suatu keperluan. Sering Kiai Rozaq, yang kemudian dipercaya sebagai sopir pribadi sang guru, diperintahkan mengantar Mbah Mangli keliling Jawa selama seminggu penuh. Ketika berkhidmah kepada ulama kharismatik tersebut, banyak pelajaran berharga yang didapatnya.

“Ternyata Mbah Mangli benar-benar ulama yang dianugerahi kasyaf oleh Allah. Beliau weruh sak durunge winarah,” katanya. Maksudnya, sudah tahu sebelum suatu peristiwa terjadi. Pernah suatu ketika Kiai Rozaq diminta mengikuti sang guru ke suatu tempat. Sebelum berangkat, Mbah Mangli minta muridnya itu menempuh rute memutar jalan – rute yang tidak biasa. Menganggap jarak yang akan ditempuh semakin jauh, Kiai Rozaq memberanikan diri mengusulkan rute yang biasa. Karena Mbah Mangli diam saja, ia pun menempuh jalur biasa yang lebih singkat. Namun, di suatu tempat, perjalanan terpaksa terhenti karena jembatan yang harus mereka lewati baru saja ambrol.

Menurut penduduk setempat, diperkirakan waktu ambrolnya jembatan bersamaan dengan perintah Mbah Mangli kepada Kiai Rozaq untuk menempuh jalur memutar. Maka sang murid pun segera menyadari kesalahannya, dan minta maaf.

Santri Kesayangan

Setelah genap tiga tahun, Kiai Rozaq menyelesaikan pengajian – sesuai perintah sang guru. Hal ini pun sepertinya merupakan isyarat sang guru, karena tak lama kemudian K.H. Ahmad Umar, pendiri dan pengasuh pertama Ponpes Al-Muayyad, wafat. Karena almarhum tidak berputra, para kiai sepuh memerintahkan Abdul Rozaq – kemenakan tertua almarhum, yang memang sudah lama dibimbing oleh Kiai Umar – untuk mengasuh Ponpes Al-Muayyad. Padahal ketika itu usianya baru 36 tahun, terbilang masih terlalu muda untuk memikul amanat kepengasuhan yang cukup berat.

Dalam tradisi pesantren, kedekatan seorang santri dengan ulama kharismatik, apalagi menjadi santri kesayangan, merupakan sebuah keistimewaan. Dalam beberapa hal, posisi seperti itu sering kali juga menjadi semacam pengakuan atas kapasitas dan integritas si santri.

Dari Mbah Mangli, selain mengaji ilmu agama, Kiai Rozaq juga belajar ilmu kedermawanan. Menurutnya, dalam hal yang satu ini sang guru terbilang sangat luar biasa. Ia tidak pernah menolak pengemis yang datang meminta-minta. Dan, sebagaimana ajaran agama, sang guru selalu menasihati bahwa sedekah tidak pernah membuat seseorang menjadi miskin. Bahkan sebaliknya, dengan bersedekah, harta seseorang malah berlipat ganda karena berkah.

Namun, Kiai Rozaq sendiri mengakui, menjadi seorang dermawan bukan hal yang mudah. “Persoalan terbesar yang selalu menghadang orang yang ingin menjadi dermawan ialah penyakit hubbud dun-ya, terlalu cinta materi. Penyakit ini sangat berbahaya, karena bisa mematikan hati seseorang,” katanya. “Kerusakan moral yang melanda banyak pemimpin negeri ini berawal dari hubbud dun-ya itu. Ini bertolak belakang dengan contoh-contoh yang diajarkan oleh tokoh-tokoh Islam generasi awal,” tambahnya.

Jauh sebelumnya, pengalaman paling berharga mengenai kedermawanan itu didapatnya dari sang ayah, Kiai Shofawi. Saudagar batik yang kaya di Tegalsari, Solo, itu selalu menasihati putra-putrinya bahwa orang kaya harus menjadi semacam keran, yang selalu mengucurkan air bagi setiap orang yang membutuhkan.

Lagi-lagi pelajaran itu tidak hanya disampaikan dalam bentuk teori. Sepanjang hidupnya, sang ayah dikenal sebagai dermawan. Sering orangtua yang ingin memondokkan anaknya ke pesantren, tapi tak punya biaya, sowan kepada sang ayah. Maka bisa dipastikan, orang tersebut tidak akan pulang dengan tangan hampa. Hingga kini jejak kedermawanannya masih terlihat, berupa Pondok Pesantren Al-Muayyad dan Masjid Takmirul Islam, Tegalsari, yang merupakan amal jariyah almarhum. Bahkan Masjid Tegalsari, yang dibangun sekitar seabad silam, dan merupakan masjid swadaya masyarakat yang pertama di Solo itu, dibangun dengan sisa ongkos naik haji tiga orang ulama yang diberangkatkan dengan biaya Kiai Shofawi.

Konsisten sebagai pengasuh pondok pesantren, Kiai Rozaq sangat prihatin ketika akhir tahun lalu mendengar kabar adanya rencana untuk mendata sidik jari kaum santri. Maka dengan tegas mantan rais syuriah Pengurus Nahdlatul Ulama Cabang Solo itu menolak. “Seharusnya pemerintah membaca sejarah. Sejak negeri ini belum berdiri, pesantren selalu berdiri di barisan terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Dan setelah merdeka, kaum santri senantiasa mencintai dan membela tanah air dengan istiqamah,” kata Kiai Rozaq, yang sehari-hari biasa dipanggil Pak Dul.

Dalam sejarahnya, pesantren telah membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan yang tangguh dan berhasil mendidik karakter para santri. Menurut Kiai Rozaq, kunci utamanya ialah keikhlasan para pengasuh dan pengajarnya. Sebab, kalangan pesantren menganggap bahwa ilmu – terutama ilmu agama – adalah amanah Allah yang muslim secara suka rela harus menyampaikan kepada setiap orang yang membutuhkannya.

Itulah sebabnya khittah pesantren Al-Muayyad ialah mendidik para santri – siapa pun orangnya. Maka tidak boleh ada kebijakan yang membuat seseorang terpaksa tidak jadi nyantri hanya gara-gara tidak mampu membayar biaya pendidikan. (Kang Iftah Sidiq)

source: http://www.pondokpesantren.net