Nasehat Guru Kepada Muridnya

Dalam lingkungan pondok pesantren, seperti di lingkungan pondok pesantren Salafiyyah Darurrohmah Cirebon, arti seorang guru / ustadz / kiai bagi seorang santri sangat penting. Menurut Kiai Fathurrohim, selaku sesepuh  pondok pesantren Salafiyyah Darurrohmah Cirebon, ustadz atau kiai di sini (pesantren) adalah guru sekaligus orang tua bagi para santri. Maka tak jarang para santri curhat pada ustadz dan atau kiai. Mereka memiliki orang tua di sini. Walaupun tidak akan pernah bisa menggantikan kedudukan ayah dan ibu kandung mereka. Hal ini sebagaimana survey terhadap para santri saat kegiatan Taaruf Pesantren yang menghasilkan 100% santri mengatakan ustadz atau kiai di pesantren tidak dapat menggantikan kedudukan orang tua mereka.

Tulisan Nasihat Guru Kepada Murid ini kami kutip dari buku yang ditulis oleh Muhammad Syakir, ulama besar Iskandariyah dengan judul "Washayal abaa lil abnaa". Berikut nasihat guru kepada murid :

Wahai anakku sayang, semoga Allah memberimu petunjuk dan pertolongan untuk selalu beramal shalih. Sesungguhnya bagiku engkau ibarat seorang anak yang berada di sisi ayah yang dicintainya. Aku akan bahagia bila melihat dirimu berbadan sehat, berpendirian kuat, suci hati, berakhlak mulia, menjaga adab, menjauhi perkataan tercela, lemah lembut dalam bergaul, menyayangi sesama, menolong fakir, belas kasih terhadap yang lemah, pemaaf, tidak meninggalkan sholat, dan tidak menunda-nunda waktu untuk beribadah kepada Pencipta, Pemilik, Pemelihara, Penguasamu.

Wahai anakku sayang, seandainya engkau mau menerima nasehat dari seseorang, seandainya engkau mau menerima nasihat dari seseorang, maka akulah orang yang pantas untuk kau terima nasehatnya. Aku adalah gurumu, pendidikmu yang membantu memelihara jiwamu. Engkau tidak akan mendapat seseorang yang lebih mengharapkan kebaikan dirimu sesudah orang tuamu kecuali aku (gurumu).

Wahai anakku sayang, sesungguhnya aku adalah pemberi nasihat yang patut untuk dipercaya. Karena itu, terimalah dengan ikhlas segala nasehatku, dan amalkanlah dalam hidupmu serta dalam pergaulan dengan teman-temanmu.

Wahai anakku sayang, bila engkau tidak mengamalkan segala nasehatku dalam kesendirianmu, maka engkau tidak akan dapat mengamalkannya dikala bergaul dengan teman-temanmu.

Wahai anakku sayang, bila engkau tidak menuruti nasehatku, siapakah yang akan engkau ikuti? Apakah artinya engkau memaksa dirimu untuk duduk dihadapanku?!

Wahai anakku sayang, sesungguhnya seorang guru menyayangi anak didiknya yang taat dan shalih, sukakah engkau bila guru yang telah mendidikmu tidak rela dan tidak mengharap suatu kebaikan atas dirimu?

Wahai anakku sayang, sesungguhnya saya sangat mengharapkanmu agar selalu beramal shalih. Karena itu bantulah aku, yaitu dengan taat dan mengikuti nasehatku.

Wahai anakku sayang, akhlak yang baik adalah hiasan bagi insan, baik bagi dirinya dalam bergaul dengan teman, keluarga dan sanak saudaranya. Karena itu, jadilah engkau seseorng yang memiliki akhlakul karimah, tentu setiap orang akan memuliakan dan menyayangimu.

Wahai anakku sayang, bila engkau tidak menghiasi ilmu dengan akhlah yang mulia, maka ilmu itu akan lebih membahayakanmu dari pada kebodohanmu. Karena orang yang bodoh dimaafkan karena kebodohannya dan tiada maaf bagi seorang yang alim (pandai) dihadapan manusia bila tidak menghiasi diri dengan akhlak yang baik.

Wahai anakku sayang, jangan engkau hanya menanti saran dan kritik dariku, sesungguhnya mawas diri itu lebih utama dan lebih besar manfaatnya.

Semoga dengan tulisan nasihat guru kepada murid ini kita dapat lebih mawas diri dan lebih menghormati guru.

0 komentar:

Post a Comment