Pesantren Menjadi Ujung Tombak Deradikalisasi

Pesantren diharapkan menjadi ujung tombak program deradikalisasi alias upaya mementahkan pertumbuhan pemahaman keagamaan garis keras di Indonesia. Hal itu memungkinkan karena jumlah pesantren banyak, punya pengaruh besar, dan memiliki sistem pengajaran keislaman yang lebih membumi kepada santri dan masyarakat.

Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Mayjen TNI Agus Surya Bakti mengatakan hal tersebut dalam lokakarya ”Deradikalisasi Agama Berbasis Kiai dan Pesantren” di Jakarta, Selasa (1/11). Pembicara lainnya, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH Marsudi Syuhud dan Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris.

Menurut Agus, proses radikalisasi di Indonesia terus digiatkan oleh kelompok-kelompok garis keras secara diam-diam. Mereka menyusupi lingkungan kampus, sekolah, bahkan pesantren. Para kiai dan santri diharapkan dapat mencegah masuknya paham garis keras di kalangan pesantren. Caranya, dengan memperkuat pemahaman keagamaan yang benar, lebih terbuka, dan menghargai perbedaan.

Irfan membenarkan, pesantren sangat mungkin mengambil peran besar dalam mementahkan pertumbuhan paham radikal. Pesantren memiliki sejarah panjang dalam membumikan ajaran Islam yang lebih damai, moderat, dan menghargai kemajemukan.

Radikalisme dan terorisme juga diduga kemungkinan dipicu adanya terjemahan atau tafsir keagamaan yang salah. Untuk itu, teks-teks dalam kitab suci harus diterjemahkan dan ditafsirkan dalam bahasa Indonesia secara benar dan sesuai konteksnya.

Ustaz Muhammad Thalib dalam peluncuran bukunya Al Qur’anul Karim: Tarjamah Tafsiriyah di Jakarta, Senin, mengatakan, terjemahan Al Quran secara harfiah oleh Kementerian Agama, terutama pada ayat-ayat tentang perang, justru bisa memicu pemahaman Islam yang dekat dengan kekerasan. (iam). source: Kompas.

0 komentar:

Post a Comment